Widjati

widjati
Widjati

Widjati (bukan Wijati), lahir dan dibesarkan di Kemantran, Tegal, pada bulan Februari 1928. Dilahirkan dengan nama Tjioe Wie Tjiat. Ia sahabat Piek Ardianto Soeprijadi. Semasa hidupnya, setiap hari Minggu pagi sekitar pukul 10-an sudah berada di ujung alun-alun. Di situ ada pedagang koran harian/ mingguan.

Jika anak muda Tegal ada karyanya berupa cerpen atau puisi dimuat dalam media massa, maka Widjati pun memberi penghargaan berupa uang, yang dianggap sebagai honor tambahan untuk yang bersangkutan. Biasanya setelah meilihat-lihat/ membaca/membeli koran,ia singgah ke rumah Piek yang tak jauh dari tempat itu. Pada tahun 1990-an namanya sebagai penyair sudah terdengar dari mulut ke mulut di Tegal. Maka, jelang kelahiran antologi DARI NEGERI POCI pertama tahun 1993, kami sambangi penyair tua yang nyentrik itu di rumahnya yang terpencil di pinggiran kota Tegal. Ternyata pas. Dari situ, kami sepakat untuk menerbitkan buku antologi bersama DNP. Puisi2 beliau pun tampil dalam buku DNP seri pertama itu. Ia juga digolongkan ke dalam penyair angkatan ’00’. Julukan yang diberikan oleh penyair Rendra kepadanya.(KJ)

Beberapa puisi Widjati

Di Antara Bayang-Bayang

Beribu sajakmu kembali membakar menghanguskan ragaku
Menjelma serpihan topan lumpur dan batu-batu
Duniamu yang belum mau sudah katamu sambil
Melukis huru-hara riuhnya pemberontakan.

Adakah yang lebih sesat di antara dentuman meriam
Barangkali bayanganmu menyimpan seribu satu letusan
Seperti lukisanmu yang mempermainkan sejuta bayang
Bersama tariannya yang menari-nari di hutan belantara.

Astaga, wajahmu wajahku berserakan di sepanjang trotoar
Beribu pasang mata kehilangan kaki-kakinya yang patah
Udara kian menyesak memasuki rongga kehidupan
Mentari kian gosong membakar tubuhmu dan tubuhku.

Wah, segala hitam segala yang legam segala yang
Tubuhmu lumer seperti lilin yang kehabisan lemak
Jangan bimbang saudara karena kita adalah aktor piawai
Yang pandai bersandiwara `nyanyikan lagu sakitnya zaman`.

Di tengah gemuruhnya suara-suara dari seberang lautan
Masihkah suara gitarmu bergema di sela tangisnya anak-anak jalanan
Beribu mereka entah siapa entah engkau entah aku kutak tahu
Catatan hanya mengenalnya nomor-nomor mereka yang hilang.

Inikah akhir yang kaulukis rindunya sebuah sajak
Sementara awan di atas memancarkan wajahnya yang muram
Mari, habiskan mimpimu dan mimpiku sampai akhir hayat
Sebelum senja menganga di balik liang kasihmu dan kasihku.

Kemantran-Tegal, 25 Oktober 1998
Media Indonesia on-line 12/3/2000

 

Tembang Semusim di Padang Lalang

Ketika senja turun ingin berkisah
Tanah ini serasa temaram digenggam sepi
Ketika kulihat hanya sejengkal tanah basah
Dan nisan-nisan tua dimakan rayap.

Dulu kisah riwayatmu pernah kusadap
Tanah yang gembur tersembul lewat rawa-rawa
Yang penuh jelatang gigitan lintah darat
Di sepetak sawahmu yang kering kerontang.

Seorang petani tua di tengah-tengah ladang
Kuat dan tangkas mengayunkan cangkulnya
Demikian tangkas dilipatnya tanah berbungkal-bungkal
Adalah kisahnya yang paling menawan.

Secupak tanah bersandar, mimpinya padang basah
Sekepal hanya sekepal, kau dendangkan.

Nikmatnya bermandikan cahaya langit
Dingin angin kemarau kering membersit
Kepadamu sawah-ladang kau pertaruhkan
Dan di atas mentari menatap sorotnya tajam.

Duhai langit dari segala cuaca
Mentari yang gosong mengusik kantukmu
Dan kemarau menampar harapanmu, Mas Karyo
Bukankah engkau adalah petani tangguh
Yang pandai berkisah tentang langit
Dan musim di segala cuaca.

Sebuah prosa kehidupan yang mengharukan
Satu dari seribu satu kisah duka nestapa
Telah kaugadaikan nasibmu pada selembar kertas usang
Dan dalam letih terasa tubuhmu kian terbelah.

Mas Karyo, kita telah sama berangkat dari takdir yang sama
Namun dalam makna lain dan nasib yang berbeda
Demikian hidup serasa tak bertuan datang dan pergi
Telah kauhayati sepanjang hidup sepanjang tahun.

Kini, anak-cucumu telah berangkat dari kesaksian lain
Pada makna lain, segalanya dan semuanya
Luluh-lantak dilanda prahara erosinya zaman.

Selamat jalan Mas Karyo, semoga tenang arwahmu
Di alam yang damai dan langgeng.
“Sic Transit Gloria Mundi”
Di dunia ternyata tiada yang kekal tiada yang abadi!

Kemantran-Tegal, September 1999
Media Indonesia on-line 12/3/2000

IMAJI

Dalam merabah aku meniti roman mukamu
Wajah remang yang menggelisahkan
Kemungkinan pasti tercatat

Menembus ke setiap arah pintu langit
Adakah cadar misteri?

Dan khayal ini terlampau kelam
Dingin pula kau mengikis

Margasari-Tegal, 1977

POTRETKU
Kepada pelukis S. Dito

Seperti itukah aku yang kaulukis
Dalam gelap warna yang samar
Wajahku terpampang
Bergaris pada cahaya kelancungan
Engkaupun mempermainkan warna
Sehingga akupun jadi terasing

Gelisahku tak pernah kautahu
Pada pertarungan seru seresah itu
Yang bergelut pada hidup, pada mimpi

Seperti itukah aku yang kaulukis
Dalam gelap warna yang samar
Wajahku terdampar

Gelisahku tak pernah kautahu….. absurd
Di sini jua segera kupenggal kepalaku

Tegal, 1986

MANTRA

Maka gaiblah sang pesona
Di luar suara anginpun raib
Api dan doa
Di atas ranjang
Indera pun meleleh terbakar

Yang terjadi bersama asap
Betapa sigap ia menyelinap

Maka gaiblah sang pesona
Asap dupa dan mawar
Kembali mengusap wajahku
Yang pingsan

Margasari-Tegal, 1975

YANG

Ini kekasih yang alpa, namun setia
Dalam bercinta mungkin kita terlampau manja
Kepada hidup, banyak tawar-menawar

Seperti ini kutulis pada awal kalimat yang
Paling cerewet, paling senantiasa, namun yang
Paling membosankan

Baiklah, cintamu kini kukembalikan
Sebelum kita saling mengenal—asalmula

Margasari-Tegal, 1977

 

NOSTALGIA

Rinduku yang setia sayangku
Ketika malam hujan turun
Adalah rindu kampong halaman

Kukecup rintihmu yang kelam
Lalu kau usir bayangan yang gelap
Aduh!
Di sana tertinggal suara serunlingku lapat-lapat
Bersama siti yang memetik tali-tali kecapi

Margasari-Tegal, 1977

GELOMBANG I

Suara yang gemuruh bergelombang
Badai dan topan salju
Suara-suara kereta, suit angin
Pohon-pohon tumbang seakan-akan
Raksasa turun
Dari langit

Penumpangnya bermantal hitam
Berteriak-teriak memanggil dan memaki-maki

Tiga kali suara cambuk tiba-tiba meletus
Menggeletar di muka gerbang
Akupun roboh

Kemudian lalu sepi
Haya sepi dan gelombang
Sepi yang gemuruh
Letusan-letusan di tikungan

GELOMBANG II

Engkau dengar?
Kudengar langkahnya yang mendekat
menepuk pundakku dan bertanya:
Berapa kira-kira umurmu?
Napasnya berat mendengus
Alamatkah ini ataukah ajal di luar kepala
Bukankah engkau telah lama wafat?
Alangkah dingin tanganmu yang dulu pernah kujabat
Demikian hangat. Adakah semuanya ‘kan mencatat?
Pasti, pasti semuanya kucatat, walau beku
Di bawah tumpukan puing-puing dan sajak!

Dan gelombang suara itu, alangkah
Ia memanggil-manggil nama serta usiaku
Ia melambaikan bendera hitam

Margasari-Tegal, 1975

SAJAK

Sungguh!
Adalah kata-kata sekarat
Pengelap sisa-sisa kotoran
Di atas meja

Perutku merasa jadi sangat melilit
Barangkali para cacing yang bermukim di
Usus laparku asyik berpestapora
Karena cacing pun berwenang melagukan kata demi kata
Tentang perut, tentang bumi, tentang langit, tentang cuaca
Seperti engkau, akupun senang sekali mendengarkan sabda
Para nabi. Seperti engkau, akupun setiap hari selalu mandi
Sungguh, sajak ini kutulis di malam bening, sebening air danau,
Engkau paham?
Barangkali engkaupun lantas manggut-manggut tersenyum
Sambil menguap lalu pergi

Lanjiladang-Bantarbolang, 1985

KUCING DAN PUISI

Seekor kucing
Mendengkur
Di kolong ranjang
Sepiring ikan
Tinggal tulang-belulang

Kucing bermimpi
Telah kuterkam seekor sajak
Dengan cakar dan taringku
Kucabik kukoyak tubuhnya
Terus kusantap

Alangkah getir dan pahit dagingnya
Segera kumuntahkan
Kemudian rohnya kukirim kembali
Kepada yang paling terhormat
Tuan si penulis sajak

Sajakpun bermimpi
Menulis sebuah puisi:
Duniamu yang masgul
Duniaku yang kelabu
Duri dalam daging
Daging dalam duriku

PUISI-PUISI

Setumpuk hidup
Mendongkol
Dalam mimpi

SENJA

Senjapun membayang
Di puncak bukit
Merayap ke pohon-pohon
Di celah pucuk rimbun daun

Senjapun menyusup
Menembus kaca-kaca usia
Tubuhpun jadi kian loyo
Sia-sia menghitung jari-jari
Dan pangling melihat
Anak kemarin sore sudah besar

O, ya, ya….
Umurku tambah mendekati
Jadi makin tua, meski belum pikun
Tapi engkau siapa?

Dan tiba kepak seekor kelelawar
Mencicit senja hitam turun
Senja daun-daun gugur

Senjapun meremang
Berdebar-debar akupun menunggu
Detik-detik waktu

Tegal, 10 Nop 1987

Iklan

One thought on “Widjati”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s