Semangat dari Gang Marpangat

PELUNCURAN buku Antologi Penyair Indonesia Dari Negeri Poci (DNP) 4: Negeri Abal-Abal yang diselenggarakan di Ruang Adipura, Kota Tegal, 10 Maret 2013 lalu menorehkan catatan penting bagi kesusasteraan Indonesia. Betapa tidak? Selain menjadi ajang reuni bagi Komunitas Negeri Poci, perintis awal penerbitan antologi itu, yang sudah puluhan tahun terpisah, sekaligus menjadi tempat terakhir pengabdian seorang penyair yang menyetiai dunia kesusasteraan, Boedi Ismanto.

Meninggalnya Isman –sapaan akrab Boedi Ismanto- memang menyisakan kesedihan mendalam di kalangan sastrawan Indonesia. Penyair Yogyakarta yang lahir di Tegal tersebut meninggal di tanah kelahirannya, tepat saat menghadiri pesta sastra, peluncuran Antologi Penyair Indonesia DNP IV.

Tapi di sisi lain, terbitnya DNP 4 juga merupakan moment paling ditunggu-tunggu para sastrawan Indonesia, terutama 99 penyair yang terhimpun di dalamnya. Betapa tidak? Buku ini menjadi sangat spesial karena jeda terbitnya memakan rentang waktu 17 tahun, sejak penerbitan serie sebelumnya, tahun 1996.

Selama hampir setahun tim kurator yang merupakan anggota Komunitas Radja Ketjil bekerja dengan cermat, membaca/memilih setiap kiriman puisi, dan menentukan nama-nama penyair yang lolos dalam kurasi terakhir. Keseriusan penggarapan inilah yang akhirnya ‘memaksa’ peluncuran buku yang sedianya akan dilaksanakan pada Agustus 2012, mundur menjadi Maret 2013.

Nama-nama besar seperti Adri Darmadji Woko, F. Rahardi, B. Priyono Soediono, Dharnoto, Eka Budianta, Handrawan Nadesul, Kurniawan Junaedhie,  Oei Sien Tjwan, Rahadi Zakaria, Rita Oetoro, Syarifuddin A.Ch, Piek Ardijanto Soeprijadi, dan Widjati merupakan cikal-bakal Komunitas Negeri Poci.

Yang menarik dari terbentuknya komunitas tersebut adalah sosok Piek Ardijanto, sastrawan angkatan 1966 asal Kota Tegal yang sejak era 1970-an sudah dikenal luas sebagai penyair. Kala itu, karya-karya Piek menghiasi hampir semua surat kabar dan majalah di Indonesia. Selain menulis puisi, Piek Ardijanto, kadangkala juga mengulas puisi-puisi para penyair muda yang semangatnya tengah menyala-nyala.

Mendapat respon positif dari seniornya, Adri Darmadji Woko dan kawan-kawan merasa mendapat tempat untuk belajar. Dari komunikasi melalui tulisan itulah, akhirnya para penyair muda itu menjalin komunikasi secara personal dengan Piek melalui pertemuan-pertemuan intens. Awalnya, hubungan mereka dengan Piek adalah murid-guru yang sering membimbing, memberikan pengarahan kepada para penyair muda. Namun, lama-kelamaan, hubungan itu berangsur berubah menjadi anak-bapak. Secara berkala, mereka bertandang ke rumah Piek Ardijanto di Gang Marpangat, Tegal, hanya untuk bersilaturahim dan belajar puisi secara mendalam. Sebut saja Handrawan Nadesul yang kini berprofesi sebagai dokter dan penulis. Saat libur semester, selama satu bulan Hans –sapaan akrabnya- ngendon di rumah Piek Ardijanto seperti rumah sendiri. Semua buku koleksi Piek dibaca, berdiskusi mengenai sastra, berinteraksi dengan para seniman Tegal, menyelenggarkan pelatihan baca puisi, dan menyelenggarakan lomba.

Dari intimnya hubungan selama bertahun-tahun dengan Piek itulah akhirnya muncul satu gagasan pada tahun 1993 untuk membentuk Komunitas Negeri Poci, dengan menerbitkan antologi puisi bertajuk Dari Negeri Poci, yang menghimpun karya-karya dari 12 penyair antara lain Adri Darmadji Woko, B. Priyono Soediono, Dharnoto, Eka Budianta, Handrawan Nadesul, Kurniawan Junaedhie,  Oei Sien Tjwan, Rahadi Zakaria, Rita Oetoro, Syarifuddin A.Ch, Piek Ardijanto Soeprijadi, dan Widjati. Pada penerbitan perdana ini, F. Rahardi bertindak sebagai editor.

Antusiasme sambutan para sastrawan terhadap terbitnya buku antologi Dari Negeri Poci tampak pada munculnya tulisan-tulisan apresiatif yang secara khusus mengulas tentang buku tersebut. Tak pelak, tahun berikutnya, 1994, 45 penyair berhimpun dan menerbitkan seri ke-dua dengan judul yang sama, Dari Negeri Poci 2. Selanjutnya, jarak antara seri ke-dua dan ke-tiga hanya selisih dua tahun (1996). Namun untuk seri ke-empat (Negeri Abal-abal), rentang jaraknya cukup jauh, yakni 17 tahun. Namun demikian, selama kurun waktu itu Komunitas Negeri Poci masih tetap menjaga komunikasi dengan Piek Ardijanto sampai meninggalnya, tahun 2001.

Bulan Juni 2014 ini, Komunitas Radja Ketjil Jakarta kembali menerbitkan Antologi Penyair Indonesia Dari Negeri Poci dengan subjudul Negeri Langit yang memuat 153 penyair dari seluruh Indonesia. Peluncuran bukunya diselenggarakan berbarengan dengan Temu Penyair Negeri Poci, 20 – 22 Juni 2014 di Tegal.  Selain peluncuran buku, agenda lainnya meliputi pertunjukan baca puisi, diskusi sastra, dan wisata budaya dengan menggelar silaturahim di Gang Marpangat, Kota Tegal, “markas” yang pernah menjadi cikal-bakal proses kreatif para perintis DNP,  sekaligus peringatan 20 tahun antologi tersebut. (*)

 Joshua Igho, salah satu penyair Dari Negeri Poci.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s